Dulu. Dulu sekali. Jauh sebelum aku mengenalmu. Ketika aku tak tau siapa dirimu. Belum pernah bertatap muka denganmudan memahami lekuk wajahmu. Saat itu, ada seorang gadis yang begitu mengagumimu. Dia tau setiap celah yang ada dalam kehidupanmu. Mulai dari hal kecil yana kamu suka hingga hal yang sangat kamu benci. Dia tau tentang keluargamu dan apa yang terjadi didalamnya. Dia juga tau apa yang terjadi dimasa lalumu.
Setiap hari, gadis kecil ini selalu berseri-seri. Setiap ia pulang dari sekolah, pasti ia membawa segudang cerita tentang dirimu dalam benaknya. Berlari-lari kecil den tersenyum riang sembari menghampiriku. Aku sudah terbiasa dengan tingkah gemasnya yang sejak beberapa bulan lalu ia tunjukkan kepadaku. Aku duduk dan tersenyum manis menunggu kedatangannya. Dia, sahabatku sekaligus saudara bagiku.
Saat ia sudah mendapati aku disampingnya, dengan segera ia bersiap untuk bercerita. Tentang apa yang terjadi pada dirinya hari ini. Dan tentu kau tau, cerita tentangmu. Selalu tersaji lengkap. Dan diakhir kalimat selalu ia bubuhkan kata sayang untukmu..
Aku berusaha menjadi pendengar yang baik. Mendengarkan ceritanya dan melihatnya tersenyum karenamu adalah anugerah yang sangat aku syukuri. Karena sebelumnya, ia tengah meratap dalam kesedihan. Tak perlu aku ceritakan, kamu pasti tau kesedihan macam apayang ia rasakan saat itu.
Aku bersyukur sahabatku mengenalmu. Karenamu aku bisa melihat senyum di bibirnya lagi. Meski tak pernah aku mendengar sesuatu hal yang kalian lakukan secara bersamaan, tapi aku yakin dia bahagia dan menikmatinya.
Berbulan-bulan lamanya. Aku mendengar cerita tentang orang yang sama. Yaitu kamu. Membuatku lebih mengenalmu. Bahkan aku rasa mungkin sangat mengenalmu. Iya, aku rasa. Mungkin. Sangat mengenalmu -entahlah-.
Hingga sebuah jalan takdir mempertemukan kita. Menjebak kita saat jumpa pertama kala itu. Aku sudah mengenalmu, tentu karena cerita sahabatku. Tapi aku yakin, kamu belum mengenalku. Saat itu mungkin sikapku acuh kepadamu. Iya, aku menjaga perasaan sahabatku. Karena aku tau dan aku pun merasakan ada letupan kecil dihati kita saat berjabat tangan dan beradu pandang.
Jantungku berdetak berirama riuh. Irama yang telah sekian lama aku lupakan. tak pernah kurasakan setelah penghianatan yang lalu. Tubuhku bergetar, getaran dahsyat yang mampu merobohkan ketegapanku. Suhu tubuhku memanas. Keringat dingin mengucur deras. Mulutku terpaku tak bergerak. Lidahku kelu tak dapat berucap. Aku tau kamu merasakan hal yang sama aku rasakan saat itu.
Saat aku dalam kesendirianku. Dalam ruanganku. Hanya aku. Aku berteriak. Mengabarkan pada dunia tentang apa yang tengah bergejolak. Mengapa dia. Mengapa sahabatku. Yang harus berjumpa dan mengenalmu lebih dulu. Yang mengagumimu dan membanggakanmu. Memiliki perasaan yang mendalam terhadapmu.
Seiring waktu aku semakin dekat denganmu. Aku merasa hal yang lebih memuakkan. Aku menyayangimu. Dan rasa itu semakin bertambah kuat karena kedekatan kita. Aku tak tau apa yang kamu rasakan. Yang aku rasa hanya tatap matamu penuh arti untukku. Tersirat harapan didalamnya.
Kamu perkenalkan dirimu dari A sampai Z kepadaku. Aku diam dan mendengarkan setiap kata yang kau ucap. Sambil sesekali berceloteh kecil dan meledekmu seakan aku belum pernah mendengar cerita yang serupa. Karena memang, setaumu akau tak mengerti sedikitpun tentangmu.
Saat tiba giliranku menceritakan diriku, sepertinya hal itu tak penting bagimu. Sepertinya kau tak butuh penjelasan tentang diriku. Kamu tak memperhatikan setiap ucapanku. Dan hanya menatapku dengan mata berbinar seakan terpesona dengan tingkahku. Dan aku tau, tatapan itu penuh cinta. Tiba-tiba kau mendekatkan posisimu denganku. Berbisik pelan ditelingaku mengatakan bahwa kamu menyayangiku. Kemudian mengecup keningku. Spontan, hal itu membuatku berhenti berkata-kata.
Aku tak tau apa yang harus aku lakukan setelah ini. Meskipun kita merasakan hal yang sama tapi ini tak layak bagiku. Aku tak boleh mencintai seseorang yang telah dicintai oleh sahabatku. Aku tak berhak melakukannya. Menusuknya dari belakang. Mematahkan harapannya yang telah ia bangun untuk bersamamu.
Tapi aku tak kuasa atas perasaan ini. Lebih-lebih kamu mendesakku melakukannya. Hingga akhirnya aku mengalah. Aku sandarkan hati ini kepadamu. Menjalin hubungan denganmu. Mencintaimu diam-diam. Dan aku harus bersembunyi. Sembunyi darinya. Dia. Sahabatku.
Sahabat, maafkan aku. Aku tau kamu mencintainya. Aku juga mencintainya. Dan maaf, dia mencintaiku. Maaf kami harus melakukan ini kepadamu.
Suatu saat nanti, setelah kami siap pasti kami akan mengungkapkan semua kepadamu. Bahkan bila kau tetap tak bisa terima, aku siap melepasnya dan mengembalikannya kepadamu.
- MAAF - d
Tidak ada komentar:
Posting Komentar